Senin, 14 November 2016

Cerpen

Lorong Gelap
Oleh : Naufal Dwiakram

B
us mulai menyusuri gelapnya jalan yang berliku. Nezi duduk di bangku bagian belakang, menikmati perjalanan panjang yang gelap dan suasana yang sunyi sendiri.

            “Hey Lan jangan nyender dong, berat nih!” keluh Nezi.
            “Oh maaf Nez aku ketiduran.” kata Alan lesu.
            Alan adalah teman baik Nezi di sekolah. Lagi-lagi Alan menyender ke bahu Nezi. Nezi sebenarnya kesal, tetapi dia hanya terdiam saja karena kasian bila membangunkan Alan yang sedang tertidur pulas. Untuk menghilangkan jenuh Nezi mendengarkan musik. Tak lama kemudian Nezi juga tertidur dengan menyender ke kaca bus.
            “Duugg...” terdengar suara kepala Nezi terbentur kaca bus yang keras.
            “Aaww...” jerit Nezi.
            “Kenapa kamu Nez?” tanya Alan.
            “Kepalaku kebentur kaca bus, aduh sakit nih” jawab Nezi kesakitan.
            “Hahahaha...” Alan tertawa.
            “Kamu ada temen yang lagi kesakitan malah ketawa huh” kata Nezi kecewa.
            “Iya maaf abisnya lucu si.” Balas Alan.
            Beberapa lama kemudian Alan tertidur kembali.
            “Dasar tukang tidur.” kata Nezi pelan.
            Nezi sangat menikmati perjalanannya. Dia selalu mengamati apa yang dilihatnya. Tiba-tiba saat Nezi menengok ke jendela ada sesosok makhluk aneh yang mengerikan dari balik kaca dan makhluk itu berkata “Waspadalah, waspadalah.” Nezi sangat ketakutan medengar itu. Tak lama kemudian makhluk itu menghilang dengan cepat.

            Saat melewati rel kereta tiba-tiba bus yang di tumpaki Nezi mogok tepat di tengah rel kereta. Datang kereta dengan sangat cepat melaju tepat ke arah Nezi. Nezi sangat ketakutan apakah dia akan mati disini.
“Aaaa...” teriak Nezi.
“Dubrak” suara kepala Nezi terbentur kaca bus. Dan diapun terbangun ternyata dia hanya bermimpi. Nezi menengok ke sekelilingnya.
“Kenapa kamu Nez?” Tanya Dinar. Dinar adalah teman baik Nezi. Dia duduk di depan Nezi.
“Aku habis mimpi buruk.” jawab Nezi.
            “Pantesan gelisah begitu.” kata Dinar.
            “Mending kita main yuk.” seru Dinar.
            “Ayo tapi mainan apa?” tanya Nezi.
            “Begini, kita tempelin kepala kita di kaca pas ada truk apa bus lewat.” jawab Dinar.
            Mereka berdua bermain bersama sedangkan teman teman yang lain tertidur pulas.

            Terlihat sebuah tugu bertuliskan Selamat Datang di Provinsi Jawa Barat. Akhirnya perjalanan Nezi dan teman teman sampai di Jawa Barat juga. Tujuan mereka adalah menuju ke Asrama Haji di Pondok Gede, Jakarta. Perjalanan yang masih cukup panjang.
           
            Bus Tiba di tol Cikampek Jakarta dan menuju ke Asrama Haji. Ada tiga bus yang ikut dalam perjalanan yaitu bis A, B, C, dan D Nezi menaiki bus D. Bus yang di tumpaki Nezi paling cepat sampai di Asrama Haji. Kamar di Asrama Haji ternyata sudah penuh, jadi nunggu ada yang ceck out dulu. Smabil nunggu kamar kosong Nezi jalan jalan di sekitar penginapan.
            “Hey Alan, Dinar kita jalan jalan sebentar yuk bete nih disini.” ajak Nezi.
            “Ayo tapi jangan jauh jauh ya nanti kita kesasar.” jawab Alan.
            “Kalian mau kemana?” tanya pak Marzuki wali kelas meraka di 8G.
            “Mau jalan jalan sebentar pak.” jawab Nezi.
            “Jangan jauh-jauh ya.”
            “Iya pak.” jawab mereka bertiga serempak.
            Merekapun jalan-jalan mengelilingi penginapan itu walau matahari belum terbit.

Anak laki-laki kelas Nezi satu kamar dengan anak laki-laki kelas F. Tempat tidur di dalam penginapan bertingkat ada sekitar 10 tempat tidur, jadi muat untuk 2 kelas. Nezi langsung memilih tempat tidur di bagian pojok kanan tengah.
            “Aku disini ya.” ucap Nezi
            “Nez, aku diatasmu ya?” tanya Dinar.
            “Iya gapapa Din.” balas Nezi.
            “Aku di depanmu Nez!” seru Alan.
            Mereka segera merapikan barang-barang bawaan mereka.
            “Din, Lan kita mandi yuk.” ajak Nezi.
            “Ayo keburu penuh kamar mandinya.”
Mereka bertiga langsung menuju ke kamar mandi.
            “Waduh kok kaya gini kamar mandinya si!” seru Alan.
            “Kenapa kamar mandinya?” tanya Nezi.
            “Sinih ya masuk.” jawab Alan
            Nezi dan Dinar lalu segera masuk ke dalam kamar madi.
            “Wah iya ini masa pintunya pada rusak!” seru Dinar.
            Kamar mandinya memang bersih tetapi pintunya rusak semua, bahkan ada yang tidak ada pintunya. Ini harus jadi perhatian bagi pengelola penginapan.
            “Aa.. aku punya ide” kata Nezi.
            “Apa apa?” tanya Alan dan Dinar penasaran.
            “Gini pas aku lagi mandi kalian pegangin pintunya nanti gantian, gimana?” jawab Nezi.
            “Iya oke setuju.” jawab Alan dan Dinar Semangat.
            “Tapi jangan jail loh ya!” seru Nezi.
            “Iya lah beres, cepet masuk.” jawab Alan.
            Nezi langsung masuk ke kamar madi Dinar dan Alan memegangi pintunya.
            “Airnya anget!” seru Nezi.
            “Cepetan lah kamu.” Seru Dinar.
            “Iyanih bentar lagi.” jawab Nezi.
            Setelah Nezi selesai madi gilran Alan setelah itu Dinar. Mereka semua selesai mandi juga dan kembali lagi ke kamarnya.

            Mereka menggunakan kaos seragam berwarna hijau dengan lengan berwarna hitam dan ditengahnya warna putih dengan garis kuning. Lau mereka sarapan bersama teman-teman yang lain.

            Bus Mulai menuju ke TMII untuk wisata pertama. Jarak dari penginapan ke TMII cukup dekat. Hanya dalam beberapa menit saja.
            Sesampai di sana ternyata masih sepi dan pada belum buka, sehingga bus berhenti dulu di lapangan di TMII untuk menunggu tempat tujuan buka yaitu PP Iptek.
            “Hey Lan, Din kita foto yuk bertiga!” seru Nezi.
            “Ayo tapi siapa yang motoin?” tanya Alan.
            Hendri lewat di depan mereka, dia adalah teman satu bus dengan mereka. Lalu Nezi meminta tolong Hendri untuk memfoto mereka bertiga.
            “Hey Hendri kesini sebentar.” panggil Nezi.
“Iya ada apa?” tanya Hendri.
            “Aku minta tolong fotoin kita bertiga ya?”tanya Nezi
“Oh ya boleh.” jawab Hendri        
            Hendri lalu memfoto mereka bertiga. Setelah mereka berfoto-foto mereka di panggil pak Marzuki untuk berfoto bersama satu kelas.

            Karena PP Iptek sudah di buka mereka langsung meninggalkan lapangan itu dan menuju ke PP Iptek. Di dalam PP Iptek ada berbagai macam alat alat teknologi sederhana dan penjelannya. Alan, Dinar, dan Nezi berjalan-jalan melihat alat-alat yang ada. Tiba tiba ada petugas PP Iptek yang berteriak memberi tau bahwa akan ada peragaan roket air. Mereka langsung menuju kesana.

            Semuanya ditunjukan bagai mana cara membuat air itu dan cara kerjanya. Ternyata untuk membuat roket air itu cukup mudah. Bahannya hanya 2 buah botol disambung dan di sampingnya di beri sayap. Roket diisi air seperempatnya saja lalu dimasukkan ke dalam sebuah alan peluncur yang dihubungkan dengan pompa. Saat pompa ditekan roket akan meluncur karena ada tekanan antara angin dan air sehingga roket meluncur.
            “Tadi peragaan roket airnya keren ya, cuma dari botol bekas bisa jadi seperti itu.” kata Nezi.
            “Iya kreatif banget.” balas Dinar.
            Nezi, Alan dan Dinar jalan-jalan kembali di dalam PP Iptek lalu mereka naik ke lantai 2. Disana ternyata ada peragaan lagi. Kali ini tentang gerak cepat. Mereka memperhatikan dengan serius peragaan itu.
            Selesai Mengunjungi PP Iptek menuju ke Museum Minyak Gas dan Bumi. Ini masih di dalam TMII juga lokasinya tidak jauh dari PP Iptek. Mereka lalu berjalan menuju ke Museum itu. Musem Minyak Gas dan Bumi mirip dengan anjunga, yaitu tempat pengeboran minyak di lepas pantai.
            “Bangunannya mirip dengan anjungan ya.” ucap Nezi.
Di dalam Museum ini ada banyak cerita sejarah pertambangan minyak di Indonesia dan juga barang barang peninggalan pertambangan minyak. Di dalam sana mereka diperlihatkan film tentang sejarah pertambangan Indonesia.
“Filmnya tadi keren ya.” kata Alan
            “Iya sebenarnya negara kita itu kaya akan hasil alamnya, tetapi belum bisa memfaatkannya dengan maksimal.” jelas Nezi.
            “Iya. Terus juga kalo mau mengebor minya butuh biaya yang besar dan waktu yang lama supaya hasilnya baik.” balas Dinar
Selesai dari Museum Minyak Gas dan Bumu menuju ke Museum Purna Bakti Pertiwi. Lokasinya sedikit jauh tapi masih di kawasan TMII. Musum ini cukup luas dan terlihat terawat dengan taman yang hijau dan ada kolam di tengahnya.
            Masuk ke Museum Purna Bakti Pertiwi di dalamnya ada banyak hasil karya seni bangsa Indonesia dan hadiah dari negara sahabat. Di tengah Museumada akar raksasa yang suda di ukir. Disana ada juga lukisan yang bisa mengecoh mata kita.
            “Lan hasil karyanya bagus banget ya unik.” kata Nezi kagum.
            “Iya detail banget pengerjaannya, pasti susah dan butuh waktu yang lama.” balas Alan.
            Selesai mengunjungi Museum Purna Bakti Pertiwi lau istirahat sebentar untuk makan dan keperluan masing-masing.
            “Aku kepengin kencing nih dimana ya?” tanya Nezi gugup.
            “Itu di belakang sana.” jawab Dinar.
            “Ayolah temenin Din.” kata Nezi.
            “Nanti sebentar aku ambil minum dulu.” balas Dinar.
            Mereka berdua lalu menuju ke kamar kecil.
            “Lega..” kata Nezi.
            “Ayo kita ke bus dah mau brangkat lagi tuh.” kata Dinar.
            Bus mulai berangkat meninggalkan TMII menuju ke Monas. Perjalanan yang sedikit lama. Bus melewati jalan tol. Nezi melihat-lihat mobil yang meintas. Memang Nezi suka dengan otomotif terutama mobil.
            “Hey Lan lihat itu ada mobil BMW M3!” seru Nezi.
            “Iya, ini kan ibukota negara pastilah banyak mobil-mobil mewah disini.” jelas Alan.
            “Iya juga si.” jawab Nezi.
            Alan dan Nezi asik mengobrol sedangkan Dinar tertidur pulas selama perjalanan.
            Sampai di gerbang keluar tol Nezi masih mengmati mobil-mobil yang melintas. Di sekitar Monas ada banyak bangunan-bangunan besar, seperti : Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, MNC tower, dan Gedung Mahkamah Konstitusi.
            Bus lalu berhenti di parkiran Monas. Untuk menuju ke Monas masih harus jalan lagi dan cukup jauh. Dari Monas terlihat Stasiun Gambir diatas, sesekali ada kereta yang masuk maupun keluar dari stasiun.
            “Dari sini kelihatan banyak kereta yang mondar madir ya.” kata Nezi.
            “Iya kan Stasiun Gambir deket dari sini.” ucap Dinar.
            “Oo..”
Nezi, Alan dan Dinar lalu berjalan bersama menuju ke Monas.
“Cape juga ya Din.” keluh Nezi lemas.
“Iyanih panas lagi.” balas Dinar.
“Kamu lagi ngapain si Lan?” tanya Nezi.
Alan sibuk senderi dengan hpnya yang di arah-arahkan ke monas.
            “Ini aku lagi foto Monas.” jawab Alan.
            “Mau aku fotoin apa?” tanya Nezi.
            “Iya boleh.” jawab Alan senang.
            Ternyata untuk masuk ke dalam Monas ada jalan khusus, yaitu lewat lorong bawah tanah. Di monas saat itu cukup ramai. Banyak anak-anak yang berkunjung kesana.

            Sesampainya di dalam Monas diputarkan Ir. Soekarno saat mambacakn proklamasi. Suara rekamannya masih cukup jelas. Lalu mereka mengelilingi tembok besar di tengah. Di tembok itu terpajang burung Garuda lambang RI, Teks Proklamasi yang di lapisi lemari emas, Wilayah NKRI dan Bendera Merah Putih.
Mereka lalu ke bawah untuk melihat berbagai miniatur tentang kejadian bersejarah bangsa Indonesia, seperti : Sumpah Pemuda, Insider Bendera, Pengibaran bendera Merah Putih, rengasdengklok dan masih banyak yang lainnya.
            “Sejarah bangsa Indonesia itu banyak ya.” kata Nezi bangga.
            “Iya makannya kita haru cinta Tanah Air kita.” balas Dinar
            Mereka berbincang-bincang tentang sejarah bangsa Indonesia
            “Ini naik ke ata apa engga si ya?” tanya Nezi.
            “Kayaknya engga loh ini juga udah mau kelua.” jawab Alan.
“Yah padahal aku pengen banget naik ke atas koh ya.” kata Nezi kecewa.
“Sudahlah.” Seru Dinar.
Perjalanan dilanjutkan ke ITC Cempaka Mas. ITC Cempaka Mas adalah tempat perbelanjaan di Jakarta. Bangunannya tinggi dan luas, tetapi lingkungannya kotor dan juga ada sungai yang sudah tercemar dan baunya sangat tidak enak.
            “Bau banget ya disini.” kata Nezi.
            Nezi, Alan dan Dinar pun masuk kedalam ITC Cempaka Mas.
            “Kita kemana nih?” tanya Alan.
            “Kita kesana aja kekanan.” jawab Nezi.
“Iya Oke.” jawab Alan.
            Mereka lalu berjalan ke kanan.
            “Wah luas banget ini.” ucap Dinar.
            “Iya ini pasti susah nyari barangnya kalo baru pernah kesini kaya kita ini.” jawab Nezi.
            Mereka mondar mandir mencari barang.
            “Wah itu ada baju bagus aku belilah.” kata Alan.
            “Iya kita beli kembaran yuk.” balas Nezi.
            “Iya setuju.” jawab Alan dan Dinar.
            Mereka lalu mendekati penjual baju itu.
            “Bu ini harganya berepa?” tanya Alan.
            “Ini satu harganya Rp 40.000 de.” jawab penjualnya.
            “Ini kami mau beli tiga jadinya Rp 90.000 ya bu?” tawar Nezi.
            “Ngga bisa nanti saya rugi.” jawab penjualnya ramah.
            “Ya Rp100.000 ya bu.” tawar Nezi lagi.
            “Iya boleh de.” jawab penjualnya senyum.
            “Ini de bajunya.” kata penjual sambil menyerahkan kresek berisi baju.
            “Terimakasih bu ini uangya.” kata Alan sambil menyodorkan uang.
            Mereka lalu pergi mencari pintu keluar. Mereka mondar-mandir mencari jalan keluarnya.
            “Waduh dimana ini? Dimana pintu keluarnya?” kata Nezi khawatir.
            “Iya nih dimana? Kita semua baru pernah ke sini lagi.” balas Alan.
            “Kamu inget ga tadi kita lewat mana aja?” tanya Nezi kepada Dinar.
            “Engga” Dinar menggeleng.
            “Hey kalian sedang apa berdiri di situ” ada seseorang yang berkata kepada mereka. Nezi, Alan dan Dinar lalu menengok sekelilingnya. Ternyata ada Sonia dan Kirana. Teman sekelas mereka.
            “Ini kita lagi bingung nyari pintu keluar.” balas Nezi.
            “Loh itu pintu keluarnya.” jawab Sonia.
            “Mana?” tanya Dinar.
            “Itu di balik ruko itu.” jelas Kirana.
            “Oiya” jawab mereka bertiga malu.
            “Gimana si kalian” ucap Sonia sedikit tertawa.
            “Hahaha..” mereka semua lalu tertawa
Ternyata pintu keluarnya ada di sebelah kiri mereka, terhalang oleh sebuah ruko. Dari tadi mereka hanya mondar-mandir d sekitar pintu keluar saja.
            “Haus nih dari tadi modar-mandir beli es krim yuk.” ajak Nezi.
            Mereka bertiga lalu membeli es krim tidak jauh dari pintu keluar.
            “Dimana nih kita makan esnya?” tanya Alan.
            “Di luar saja didekat bus.” jawab Nezi.
            Mereka lalu keluar menuju ke parkiran bus.
            “Kita makan di bawah pohon besar itu saja.” Dinar menunjuk ke pohon besar.
            Mereka lalu berjalan ke pohon besar itu.
            “Enak nih makan es krim di sini.” kata Nezi.
            Sambil memakan es tiba-tiba suasana berubah menjadi tegang.
            “Kok merinding gini ya.” ucap Dinar.
            “Ah kamu itu penakut.” ejek Alan.
            “Tapi iya juga merinding nih.” balas Nezi.
            Tiba-tiba suara seram terdengar.
            “Suara apa itu.” kata Dinar.
            “Ah paling Cuma perasaanmu saja.” kata Alan
            Suara seram itu terdengar kembali.
            “Eh iya ada suara-suara aneh!” seru Alan.
            “Jangan-jangan ada hahantuuu...” teriak Dinar.
            Mereka langsung berlari meninggalkan pohon besar itu.
            “Hey tunggu aku!” seru Nezi ketakutan.
            “Gampang banget nakutin mereka hahaha...” Hendri tertawa terbahak.
            Ternyata ada Hendri di balik pohon besar itu. Dia memang anaknya jail.
            Hari telah gelap merekapun kembali ke penginapan. Alan tertidur lelap. Sesampainya di penginapan Alan masih tertidur. Lalu Alan ditinggal sendirian di bus.
            “De bangun de.” kata supir bus membangunkan Alan.
            “Oh ya pak dah sampai?” tanya Alan lesu.
            “Iya ini sudah dari tadi.” jawab supir bus.
            Alan lalu keluar dari bus dan menuju ke penginapan. Alan sempat salah ruang penginapan. Gara-gara ngantuk.
            “Gimana nih Alan belum balik juag?” tanya Nezi khawatir.
            “Iya nih kalo kekunci di dalem bus gimana?” balas Dinar.
            Tiba-tiba terdengar suara orang berlari.
            “Alan kemana saja kamu?” tanya Nezi.
            Ternyata yang berlari adalah Alan.
            “Kalian ninggalin aku di bus sendirian untung aja supir busnya mbangunin aku, mana aku salah masuk ruang penginapan lagi kalian si pake ninggalin.” jawab Alan sedikit marah.
            “Iya maaf abis kamu tidurnya nyenyak banget si.” Nezi dan Dinar meminta maaf kepada Alan.
            “Mereka bertiga lalu tertidur lelap karena seharian jalan-jalan.
Pagi datang, semua anak masih tertidur kecuali Dinar yang sedang beres-beres karena sebentar lagi mereka akan meninggalkan penginapan.
            “Hey bangun-bangun udah pagi ini.” teriak Dinar.
            “Hoam.. masih ngantuk tau.” ucap Nezi lesu.
            “Ayo hey bangun.” kata Nezi kepada Alan lemas.
            “Ayo semuanya bangun, bangun.” teriak  Dinar lagi kepada teman-teman yang lain.
            Semuanya suda bangun. Segera membereskan barangnya masing-masing dan bersiap-siap karen sebentar lagi meninggalkan penginapan.

            Bus mulai melaju perlahan meninggalkan penginapan dan menuju ke Bandung. Perjalanan yang cukup panjang dilalui. Nezi dan teman-temannya bermain kartu untuk menghilnagkan rasa jenuh.
            “Ayo cepet di bagu kartunya.” kata Alan tak sabar.
            “Iya bentar dikocok dulu.” jawab Nezi.
            “Nih kartunya aku bagi, kita main minuman saja.” kata Nezi semangat.
            “Dibagi lima-lima saja.” kata Dinar.
            “Hey aku ikutan ya!” seru Bani.
            “Aku juga.” kata Rami dan Husna
            Bani, Rami dan Husana adalahh teman satu kamar di penginapan dengan Nezi.
            “Asik rame nih.” ucap Alan.
            “Oke kita main.”
            “Hati” kata Nezi.
“Waduh aku ga ada lagi.” kata Dinar.
            “Ayo silakan ambil kartu yang banyak.” ejek Alan.
            Sepanjang perjalanan mereka asik bermain. Hingga tak terasa ternyata sudah sampai di Bandung.
            “Udah sampai di Bandung nih.” kata Dinar.
            “Wah iya, tujuan pertama kemana si?” tanya Nezi.
            “Ke Museum Geologi.” jawab Dinar.
            “Museum Geologi apasi?” tanya Nezi.
            “Museum Geologi itu Museum yang memajang banyak peninggalan-peninggalan purba bangsa Indonesia. Ada kerangka Dinosaurus batu susah ditemui, banyak lah pokoknya.” jawab Alan.
            “Oo...” balas Nezi.
            “Emang kamu belum pernah kesana?” tanya Alan.
            “Belum.” jawab Nezi.
            Bus mulai memasuki arel Museum Geologi. Terlihat cukup ramai suasana di sana. Ada anak kecil hingga orang dewasa bahkan sudah tua yang berkunjung ke Museum Geologi.
            Bangunan dari Museum geologi besar dan masih kuno dengan 2 lantai. Di dalamnya banyak terdapat artefak-artefak.
            “Oo.. ini seperti ini Museum Geologi.” kata Nezi.
            “Ramai ya” ucap Alan.
            “Sekarang kan sedang liburan sekolah panteslah ramai begini.” jawab Dinar.
            Mereka bertiga lalu masuk ke dalam.
            “Waw! Kerangka dinosaurusnya besar banget.” kata Nezi kagum.
            “Iya, disini juga  ada banyak artefak.” ucap Alan.
            “Masih ada yang lain.” ucap Alan.
            “Apa apa?” tanya Nezi penasaran.
            “Ayo kita kesana.” suruh Alan.
            “Waw! Ada banyak batu-batuan aneh.” seru Nezi.
            Mereka berjalan sambil mengamati batu-batu itu.
            “Hey lihat kesini.” ucap Dinar.
            “Ada apa?” tanya Nezi.
            “Sini ya!” suruh Dinar.
“Ini ada barang yang ditemukan setelah Gunung Merapi meletus.” kata Dinar.
            “Wah iya ini barangnya sampai begini gara-gara terkena lahar pasti panas banget ya.” balas Nezi.
            “Pastinya iyalah!” seru Dinar.
            “Ada yang baw kamera?” tanya Niza.
            “Ini aku bawa.” balas Alan
            “Ayo kita foto-foto disini.” kata Nezi.
            Saat mereka bertiga asik berfoto-foto, tiba-tiba ada panggilan.
            “Kepada seluruh siswa SMP Negeri 1 Purbalingga segera menuju ke dalam bus masing-masing karena perjalanan akan segera dilanjutkan.”
            “Wah ayo cepat kita ke bus, udah mau berangkat.” kata Dinar.
            “Iya ayo cepat.” balas Nezi.
            “Waduh rame banget ini susah keluarnya.” ucap Alan.
            Mereka berusaha menyelina di tengah-tengha keramain. Akhirnya mereka berhasil keluar juga dengan badan yang berkeringat. Cukup lama mereka berusaha untuk keluar.
            “Lama banget kalian.” kata Pak Marzuki.
            “Iya maaf pak, ramai banget di dalam jadi susah untuk keluar.” jawab Nezi.
            “Yasuda cepat masuk, ini ada makanan.” kata Pak Marzuki.
            Mereka langsung segera duduk dan memakan dengan lahap makanan yang di berikan Pak Marzuki.

             Bus melanjutkan perjalanan menuju ke Trans Studio Bandung. Perjalanan yang tidak begitu lama sikitar 1 jam. Trans Studio Bandung adalah tempat berbagai wahana permainan indoor. Trans Studio Bandung terletak dikawasan Hotel Ibis. Bangunannya besar dan megah, dengan areal parkir yang sangat luas. Saat masuk kedalam tidak boleh membawa makanan ataupun minuman da juga tas yang berukuran besar.         
            “Maaf de tasnya di titipkan di sana dulu.” kata salah satu petugas.
            “Oh ya mba.” jawab Nezi.
            Nezi lalu menitipkan tasnya di penitipan barang.
            “Ayo kita coba main itu.” Nezi menunjuk ke wahana Dunia Lain.
            “Ayo.” jawab Alan dan Dinar serempak.
“Antrinya lama banget.” ucap Dinar.
            “Sabarlah nanti juga giliran kita.” jawab Nezi.
            Mereka menunggu lama dan akhirnya giliran mereka.
            “Serem nih suasananya.” kata Danar.
    “Ayo kita naik.” kata Nezi semangat.
 Kereta mulai jalan perlahan melewati lorong-lorong yang gelap. Tiba-tiba ad hantu yang muncul dari tembok.
“Waa... ” teriak Dinar ketakutan.
            “Iiii... seram.” kata Nezi.
“Ini masih awal.” kata Alan.
            Lalu kereta masuk ke ruangan mirip penjara bawah tanah dan tiba-tiba ada monster muncul dari balik jeruji besi dengan suara menyeramkan.
“Waa...” mereka bertiga berteriak.
            Kereta memasuki ruangan mirip kamar mayat.  Ada banyak  sekali mayat yang teridur. Tiba-tiba ada satu mayat terbangun dan melirik ke arah mereka.
            “Waa...” mereka berteriak dengan sedikit tersentak.
            “Udahlah udah.” Dinar ketakutan.
            Sekarang mereka berada di kuburan. Tiba-tiba ada yang mecolek mereka dari belakang mereka melihat ke belakang dan ternyata ada kuntilanak.
            “Waaa... waaa... waa...” mereka bertiga menjerit ketakutan dan menutupi kepala mereka dengan bajunya masing-masing.
            Yang terakhir adalah tempat kecelakaan mobil ambulan. Tiba tiba ada mayat yang terjatuh dari dalam mobil dan ada sorotan cahaya terang yang membuat mereka terkujut.
            Akhirnya selesai juga petualangan mereka di wahana Dunia Lain yang membuat mereka ketakutan setengah mati.
            “Huuh, serem banget ya tadi.” kata Nezi geemtaran.
            “Iya ngga lagi-lagi deh aku.” jawab Dinar.
            “Dasar penakut.” ejek Alan.
            Mereka lalu pergi mencari wahana lain. Dan menemukan wahana asik lagi. Tetapi Dinar tidak mau ikut naik.
            “Ayo kita main yang itu!” seru Nezi
            “Ah ga ah gamau, nanti kita di naikin sampai atas trus di jatuhin gitu-gitu terus ga mau ah.” jawab Dinar takut.
            “Cemen kamu.”balas Alan.
            “Aku tunggu disini saja.” kata Dinar.
            “Yasudah ayo kita kesana Lan.” kata Nezi.
            “Oke.” jawab Alan semangat.
            Nezi dan Alan lalu menaiki wahana itu. Awalnya Nezi dan Alan semangat sekali tetapi lama kelamaan mereka menjadi takut juga.
            “Waa... lama-lama nakutin nih.” kata Nezi.
            “Iya deg-degan juga.” jawab Alan.
            Permainan akhirnya selesai. Mereka turun dari wahana itu dengan wajah yang pucat dan jalannya sempoyongan.
            “Kenapa kalian?” tanya Dinar.
            “Ini gara-gara wahana itu.” jawab Nezi.
            “Hhaha kasian.” Dinar tertawa.
            “Ayo mending kita cari wahana yang asik lagi.” Ajak Dinar.
            Mereka lalu berjalan mencari wahana yang lain lagi. Saat sedang asik berjalan Dinar melihat motornya Lorenzo. Dinar itu sanagt menyukai Lorenzo. Lorenzo adalah pembalam MotoGP dunia dari Spanyol.
            “Hey itu lihat ada motornya Lorenzo!” seru Dinar.
            “Wah iya.” balas Nezi.
            “Ayo coba kita lihat kesana.” kata Dinar.
            Nezi, Alan dan Dinar lalu mendekati motor itu.
            “Wah keren ya.” kata Dinar kagum.
            “Cobalah aku naikin.” Dinar menyuntuh motor itu.
            “Jangan Din!”  larang Alan dan Nezi.
            Dinar menghiraukan perkataan, dian akhirnya menaiki motor itu. Ada petugas yang melihat Dinar lalu mendekati Dinar kelihatanya akan marah.
            “Hey kamu jangan dinaiki itu!” teriak seorang petugas.
            “Oh ya maaf pak.” jawab Dinar.
            “Kamu ngapain naik-naik motor itu?” bentak petugasnya.
            “Maaf pa saya itu suka banget sama Lorenzo jadi saya naikin motornya Lorenzo itu.” jawab Dinar kecewa.
            “Lain kali jangan ulangi perbuatan itu lagi ya. Itu kan sudah ada tandanya dilarang menyentuh apalagi menaiki apa kamu tidak lihat!” kata petugas sambil menunjuk ke tanda larangan.
            “Iya pa maaf saya salah.” jawab Dinar menyesal.
            “Yaudah sana.” kata petugas kesal.
            “Terimakasih pa” kata Dinar, Alan dan Nezi.
“Kamu si dibilangin jangan-jangan malah ngeyel.” kata Nezi.
            “Iyalah maaf-maaf.” balas Dinar
Mereka bertiga lalu meninggalkan motor itu. Dinar sangat menyesali perbuatannya itu. Dia tidak akan mengulanginya kembali.
“Mendingan kita cari minum haus nih muter-muter dari tadi.” kata Alan.
            “Iyanih bener haus banget.” balas Nezi.
            Mereka lalu menuju ke sebuah restoran dan minum bersama-sama.
            Waktu di Trans Studio Bandung sudah usai bus sudah menunggu di depan pintu keluar. Mereka akhirnya meninggalkan Trans Studio Bandung dengan diguyur hujan yang lebat. Perjalanan mereka dilanjutkan ke Cibaduyut, yaitu tempat penjualan barang-barang khas Bandung.

            Sesampainya di Cibaduyut hujan masih mengguyur. Jalanan becek sehingga susah untuk mencar barang-barang. Nezi, Alan dan Dinar mencoba menembus derasnya hujan.
            “Hujan nih gimana?” keluh Nezi.
            “Iya nih jadi sulit nyari barang lagi.” balas Alan.
            “Udahlah ayo kita kembali aja ke bus.” kata Dinar.
            “Iya ayo kita balik aja ke bus, lagian udah dapet barang-barang juga.” balas Nezi.
            Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke bus karena hujan yang bertambah lebat.
            Tak lama kemudian bus melanjutkan perjalanan pulang kembali ke Purbalingga. Sebelum sampai mereka mampir dulu di pusat oleh-oleh Jawa Barat. Ada banyak jajanan yang tersedia disana seperti : peyem, dodol garut, selai pisang, dan masih banyak lagi.
            “Kamu mau beli apa?” tanya Nezi kepada Alan dan Dinar.
            “Aku mau beli peyem ajalah.” jawab Alan.
            “Aku dodol sama peyem.” jawab Dinar.
            “Kamu mau beli apa Nez?” tanya Alan.
            “Bingung nih” Nezi memilih-milih.
            “Yasudahlah beli dodol sama selai pisang aja.” jawab Nezi.
            Mereka lalu kembali ke bus.

            Bus mulai berjalan melanjutkan perjalanan panjang meninggalkan semua kenangan, melintas jalan yang berliku-liku. Di tengah gelapnya malam Nezi, Alan dan Dinar tertidur pulas di bangku belakang. Wajah mereka begitu senang dengan senyum di bibir.

-selesai-