Lorong Gelap
Oleh
: Naufal Dwiakram
B
|
us mulai menyusuri gelapnya jalan yang berliku. Nezi
duduk di bangku bagian belakang, menikmati perjalanan panjang yang gelap dan
suasana yang sunyi sendiri.
“Hey
Lan jangan nyender dong, berat nih!” keluh Nezi.
“Oh
maaf Nez aku ketiduran.” kata Alan lesu.
Alan
adalah teman baik Nezi di sekolah. Lagi-lagi Alan menyender ke bahu Nezi. Nezi
sebenarnya kesal, tetapi dia hanya terdiam saja karena kasian bila membangunkan
Alan yang sedang tertidur pulas. Untuk menghilangkan jenuh Nezi mendengarkan
musik. Tak lama kemudian Nezi juga tertidur dengan menyender ke kaca bus.
“Duugg...”
terdengar suara kepala Nezi terbentur kaca bus yang keras.
“Aaww...”
jerit Nezi.
“Kenapa
kamu Nez?” tanya Alan.
“Kepalaku
kebentur kaca bus, aduh sakit nih” jawab Nezi kesakitan.
“Hahahaha...”
Alan tertawa.
“Kamu
ada temen yang lagi kesakitan malah ketawa huh” kata Nezi kecewa.
“Iya
maaf abisnya lucu si.” Balas Alan.
Beberapa
lama kemudian Alan tertidur kembali.
“Dasar
tukang tidur.” kata Nezi pelan.
Nezi
sangat menikmati perjalanannya. Dia selalu mengamati apa yang dilihatnya.
Tiba-tiba saat Nezi menengok ke jendela ada sesosok makhluk aneh yang
mengerikan dari balik kaca dan makhluk itu berkata “Waspadalah, waspadalah.”
Nezi sangat ketakutan medengar itu. Tak lama kemudian makhluk itu menghilang
dengan cepat.
Saat
melewati rel kereta tiba-tiba bus yang di tumpaki Nezi mogok tepat di tengah
rel kereta. Datang kereta dengan sangat cepat melaju tepat ke arah Nezi. Nezi
sangat ketakutan apakah dia akan mati disini.
“Aaaa...” teriak Nezi.
“Dubrak” suara kepala
Nezi terbentur kaca bus. Dan diapun terbangun ternyata dia hanya bermimpi. Nezi
menengok ke sekelilingnya.
“Kenapa kamu Nez?” Tanya Dinar. Dinar adalah teman baik Nezi. Dia
duduk di depan Nezi.
“Aku habis mimpi
buruk.” jawab Nezi.
“Pantesan
gelisah begitu.” kata Dinar.
“Mending
kita main yuk.” seru Dinar.
“Ayo
tapi mainan apa?” tanya Nezi.
“Begini,
kita tempelin kepala kita di kaca pas ada truk apa bus lewat.” jawab Dinar.
Mereka
berdua bermain bersama sedangkan teman teman yang lain tertidur pulas.
Terlihat
sebuah tugu bertuliskan Selamat Datang di Provinsi Jawa Barat. Akhirnya
perjalanan Nezi dan teman teman sampai di Jawa Barat juga. Tujuan mereka adalah
menuju ke Asrama Haji di Pondok Gede, Jakarta. Perjalanan yang masih cukup
panjang.
Bus
Tiba di tol Cikampek Jakarta dan menuju ke Asrama Haji. Ada tiga bus yang ikut
dalam perjalanan yaitu bis A, B, C, dan D Nezi menaiki bus D. Bus yang di
tumpaki Nezi paling cepat sampai di Asrama Haji. Kamar di Asrama Haji ternyata
sudah penuh, jadi nunggu ada yang ceck
out dulu. Smabil nunggu kamar kosong Nezi jalan jalan di sekitar
penginapan.
“Hey
Alan, Dinar kita jalan jalan sebentar yuk bete nih disini.” ajak Nezi.
“Ayo
tapi jangan jauh jauh ya nanti kita kesasar.” jawab Alan.
“Kalian
mau kemana?” tanya pak Marzuki wali kelas meraka di 8G.
“Mau
jalan jalan sebentar pak.” jawab Nezi.
“Jangan
jauh-jauh ya.”
“Iya
pak.” jawab mereka bertiga serempak.
Merekapun
jalan-jalan mengelilingi penginapan itu walau matahari belum terbit.
Anak laki-laki kelas
Nezi satu kamar dengan anak laki-laki kelas F. Tempat tidur di dalam penginapan
bertingkat ada sekitar 10 tempat tidur, jadi muat untuk 2 kelas. Nezi langsung
memilih tempat tidur di bagian pojok kanan tengah.
“Aku
disini ya.” ucap Nezi
“Nez,
aku diatasmu ya?” tanya Dinar.
“Iya
gapapa Din.” balas Nezi.
“Aku
di depanmu Nez!” seru Alan.
Mereka
segera merapikan barang-barang bawaan mereka.
“Din,
Lan kita mandi yuk.” ajak Nezi.
“Ayo
keburu penuh kamar mandinya.”
Mereka bertiga langsung
menuju ke kamar mandi.
“Waduh
kok kaya gini kamar mandinya si!” seru Alan.
“Kenapa
kamar mandinya?” tanya Nezi.
“Sinih
ya masuk.” jawab Alan
Nezi
dan Dinar lalu segera masuk ke dalam kamar madi.
“Wah
iya ini masa pintunya pada rusak!” seru Dinar.
Kamar
mandinya memang bersih tetapi pintunya rusak semua, bahkan ada yang tidak ada
pintunya. Ini harus jadi perhatian bagi pengelola penginapan.
“Aa..
aku punya ide” kata Nezi.
“Apa
apa?” tanya Alan dan Dinar penasaran.
“Gini
pas aku lagi mandi kalian pegangin pintunya nanti gantian, gimana?” jawab Nezi.
“Iya
oke setuju.” jawab Alan dan Dinar Semangat.
“Tapi
jangan jail loh ya!” seru Nezi.
“Iya
lah beres, cepet masuk.” jawab Alan.
Nezi
langsung masuk ke kamar madi Dinar dan Alan memegangi pintunya.
“Airnya
anget!” seru Nezi.
“Cepetan
lah kamu.” Seru Dinar.
“Iyanih
bentar lagi.” jawab Nezi.
Setelah
Nezi selesai madi gilran Alan setelah itu Dinar. Mereka semua selesai mandi
juga dan kembali lagi ke kamarnya.
Mereka
menggunakan kaos seragam berwarna hijau dengan lengan berwarna hitam dan ditengahnya
warna putih dengan garis kuning. Lau mereka sarapan bersama teman-teman yang
lain.
Bus
Mulai menuju ke TMII untuk wisata pertama. Jarak dari penginapan ke TMII cukup
dekat. Hanya dalam beberapa menit saja.
Sesampai
di sana ternyata masih sepi dan pada belum buka, sehingga bus berhenti dulu di
lapangan di TMII untuk menunggu tempat tujuan buka yaitu PP Iptek.
“Hey
Lan, Din kita foto yuk bertiga!” seru Nezi.
“Ayo
tapi siapa yang motoin?” tanya Alan.
Hendri
lewat di depan mereka, dia adalah teman satu bus dengan mereka. Lalu Nezi
meminta tolong Hendri untuk memfoto mereka bertiga.
“Hey
Hendri kesini sebentar.” panggil Nezi.
“Iya ada apa?” tanya
Hendri.
“Aku
minta tolong fotoin kita bertiga ya?”tanya Nezi
“Oh ya boleh.” jawab
Hendri
Hendri
lalu memfoto mereka bertiga. Setelah mereka berfoto-foto mereka di panggil pak
Marzuki untuk berfoto bersama satu kelas.
Karena
PP Iptek sudah di buka mereka langsung meninggalkan lapangan itu dan menuju ke
PP Iptek. Di dalam PP Iptek ada berbagai macam alat alat teknologi sederhana
dan penjelannya. Alan, Dinar, dan Nezi berjalan-jalan melihat alat-alat yang
ada. Tiba tiba ada petugas PP Iptek yang berteriak memberi tau bahwa akan ada
peragaan roket air. Mereka langsung menuju kesana.
Semuanya
ditunjukan bagai mana cara membuat air itu dan cara kerjanya. Ternyata untuk
membuat roket air itu cukup mudah. Bahannya hanya 2 buah botol disambung dan di
sampingnya di beri sayap. Roket diisi air seperempatnya saja lalu dimasukkan ke
dalam sebuah alan peluncur yang dihubungkan dengan pompa. Saat pompa ditekan
roket akan meluncur karena ada tekanan antara angin dan air sehingga roket
meluncur.
“Tadi
peragaan roket airnya keren ya, cuma dari botol bekas bisa jadi seperti itu.”
kata Nezi.
“Iya
kreatif banget.” balas Dinar.
Nezi,
Alan dan Dinar jalan-jalan kembali di dalam PP Iptek lalu mereka naik ke lantai
2. Disana ternyata ada peragaan lagi. Kali ini tentang gerak cepat. Mereka
memperhatikan dengan serius peragaan itu.
Selesai
Mengunjungi PP Iptek menuju ke Museum Minyak Gas dan Bumi. Ini masih di dalam
TMII juga lokasinya tidak jauh dari PP Iptek. Mereka lalu berjalan menuju ke
Museum itu. Musem Minyak Gas dan Bumi mirip dengan anjunga, yaitu tempat
pengeboran minyak di lepas pantai.
“Bangunannya
mirip dengan anjungan ya.” ucap Nezi.
Di dalam Museum ini ada
banyak cerita sejarah pertambangan minyak di Indonesia dan juga barang barang
peninggalan pertambangan minyak. Di dalam sana mereka diperlihatkan film
tentang sejarah pertambangan Indonesia.
“Filmnya tadi keren
ya.” kata Alan
“Iya
sebenarnya negara kita itu kaya akan hasil alamnya, tetapi belum bisa
memfaatkannya dengan maksimal.” jelas Nezi.
“Iya.
Terus juga kalo mau mengebor minya butuh biaya yang besar dan waktu yang lama
supaya hasilnya baik.” balas Dinar
Selesai dari Museum
Minyak Gas dan Bumu menuju ke Museum Purna Bakti Pertiwi. Lokasinya sedikit
jauh tapi masih di kawasan TMII. Musum ini cukup luas dan terlihat terawat
dengan taman yang hijau dan ada kolam di tengahnya.
Masuk
ke Museum Purna Bakti Pertiwi di dalamnya ada banyak hasil karya seni bangsa
Indonesia dan hadiah dari negara sahabat. Di tengah Museumada akar raksasa yang
suda di ukir. Disana ada juga lukisan yang bisa mengecoh mata kita.
“Lan
hasil karyanya bagus banget ya unik.” kata Nezi kagum.
“Iya
detail banget pengerjaannya, pasti susah dan butuh waktu yang lama.” balas
Alan.
Selesai
mengunjungi Museum Purna Bakti Pertiwi lau istirahat sebentar untuk makan dan
keperluan masing-masing.
“Aku
kepengin kencing nih dimana ya?” tanya Nezi gugup.
“Itu
di belakang sana.” jawab Dinar.
“Ayolah
temenin Din.” kata Nezi.
“Nanti
sebentar aku ambil minum dulu.” balas Dinar.
Mereka
berdua lalu menuju ke kamar kecil.
“Lega..”
kata Nezi.
“Ayo
kita ke bus dah mau brangkat lagi tuh.” kata Dinar.
Bus
mulai berangkat meninggalkan TMII menuju ke Monas. Perjalanan yang sedikit
lama. Bus melewati jalan tol. Nezi melihat-lihat mobil yang meintas. Memang
Nezi suka dengan otomotif terutama
mobil.
“Hey
Lan lihat itu ada mobil BMW M3!” seru Nezi.
“Iya,
ini kan ibukota negara pastilah banyak mobil-mobil mewah disini.” jelas Alan.
“Iya
juga si.” jawab Nezi.
Alan
dan Nezi asik mengobrol sedangkan Dinar tertidur pulas selama perjalanan.
Sampai
di gerbang keluar tol Nezi masih mengmati mobil-mobil yang melintas. Di sekitar
Monas ada banyak bangunan-bangunan besar, seperti : Masjid Istiqlal, Gereja
Katedral, MNC tower, dan Gedung Mahkamah Konstitusi.
Bus
lalu berhenti di parkiran Monas. Untuk menuju ke Monas masih harus jalan lagi
dan cukup jauh. Dari Monas terlihat Stasiun Gambir diatas, sesekali ada kereta
yang masuk maupun keluar dari stasiun.
“Dari
sini kelihatan banyak kereta yang mondar madir ya.” kata Nezi.
“Iya
kan Stasiun Gambir deket dari sini.” ucap Dinar.
“Oo..”
Nezi, Alan dan Dinar
lalu berjalan bersama menuju ke Monas.
“Cape juga ya Din.”
keluh Nezi lemas.
“Iyanih panas lagi.”
balas Dinar.
“Kamu lagi ngapain si
Lan?” tanya Nezi.
Alan sibuk senderi
dengan hpnya yang di arah-arahkan ke monas.
“Ini
aku lagi foto Monas.” jawab Alan.
“Mau
aku fotoin apa?” tanya Nezi.
“Iya
boleh.” jawab Alan senang.
Ternyata
untuk masuk ke dalam Monas ada jalan khusus, yaitu lewat lorong bawah tanah. Di
monas saat itu cukup ramai. Banyak anak-anak yang berkunjung kesana.
Sesampainya
di dalam Monas diputarkan Ir. Soekarno saat mambacakn proklamasi. Suara
rekamannya masih cukup jelas. Lalu mereka mengelilingi tembok besar di tengah.
Di tembok itu terpajang burung Garuda lambang RI, Teks Proklamasi yang di
lapisi lemari emas, Wilayah NKRI dan Bendera Merah Putih.
Mereka lalu ke bawah
untuk melihat berbagai miniatur tentang kejadian bersejarah bangsa Indonesia,
seperti : Sumpah Pemuda, Insider Bendera, Pengibaran bendera Merah Putih,
rengasdengklok dan masih banyak yang lainnya.
“Sejarah
bangsa Indonesia itu banyak ya.” kata Nezi bangga.
“Iya
makannya kita haru cinta Tanah Air kita.” balas Dinar
Mereka
berbincang-bincang tentang sejarah bangsa Indonesia
“Ini
naik ke ata apa engga si ya?” tanya Nezi.
“Kayaknya
engga loh ini juga udah mau kelua.” jawab Alan.
“Yah padahal aku pengen
banget naik ke atas koh ya.” kata Nezi kecewa.
“Sudahlah.” Seru Dinar.
Perjalanan dilanjutkan
ke ITC Cempaka Mas. ITC Cempaka Mas adalah tempat perbelanjaan di Jakarta.
Bangunannya tinggi dan luas, tetapi lingkungannya kotor dan juga ada sungai
yang sudah tercemar dan baunya sangat tidak enak.
“Bau
banget ya disini.” kata Nezi.
Nezi,
Alan dan Dinar pun masuk kedalam ITC Cempaka Mas.
“Kita
kemana nih?” tanya Alan.
“Kita
kesana aja kekanan.” jawab Nezi.
“Iya Oke.” jawab Alan.
Mereka
lalu berjalan ke kanan.
“Wah
luas banget ini.” ucap Dinar.
“Iya
ini pasti susah nyari barangnya kalo baru pernah kesini kaya kita ini.” jawab
Nezi.
Mereka
mondar mandir mencari barang.
“Wah
itu ada baju bagus aku belilah.” kata Alan.
“Iya
kita beli kembaran yuk.” balas Nezi.
“Iya
setuju.” jawab Alan dan Dinar.
Mereka
lalu mendekati penjual baju itu.
“Bu
ini harganya berepa?” tanya Alan.
“Ini
satu harganya Rp 40.000 de.” jawab penjualnya.
“Ini
kami mau beli tiga jadinya Rp 90.000 ya bu?” tawar Nezi.
“Ngga
bisa nanti saya rugi.” jawab penjualnya ramah.
“Ya
Rp100.000 ya bu.” tawar Nezi lagi.
“Iya
boleh de.” jawab penjualnya senyum.
“Ini
de bajunya.” kata penjual sambil menyerahkan kresek berisi baju.
“Terimakasih
bu ini uangya.” kata Alan sambil menyodorkan uang.
Mereka
lalu pergi mencari pintu keluar. Mereka mondar-mandir mencari jalan keluarnya.
“Waduh
dimana ini? Dimana pintu keluarnya?” kata Nezi khawatir.
“Iya
nih dimana? Kita semua baru pernah ke sini lagi.” balas Alan.
“Kamu
inget ga tadi kita lewat mana aja?” tanya Nezi kepada Dinar.
“Engga”
Dinar menggeleng.
“Hey
kalian sedang apa berdiri di situ” ada seseorang yang berkata kepada mereka.
Nezi, Alan dan Dinar lalu menengok sekelilingnya. Ternyata ada Sonia dan
Kirana. Teman sekelas mereka.
“Ini
kita lagi bingung nyari pintu keluar.” balas Nezi.
“Loh
itu pintu keluarnya.” jawab Sonia.
“Mana?”
tanya Dinar.
“Itu
di balik ruko itu.” jelas Kirana.
“Oiya”
jawab mereka bertiga malu.
“Gimana
si kalian” ucap Sonia sedikit tertawa.
“Hahaha..”
mereka semua lalu tertawa
Ternyata pintu
keluarnya ada di sebelah kiri mereka, terhalang oleh sebuah ruko. Dari tadi
mereka hanya mondar-mandir d sekitar pintu keluar saja.
“Haus
nih dari tadi modar-mandir beli es krim yuk.” ajak Nezi.
Mereka
bertiga lalu membeli es krim tidak jauh dari pintu keluar.
“Dimana
nih kita makan esnya?” tanya Alan.
“Di
luar saja didekat bus.” jawab Nezi.
Mereka
lalu keluar menuju ke parkiran bus.
“Kita
makan di bawah pohon besar itu saja.” Dinar menunjuk ke pohon besar.
Mereka
lalu berjalan ke pohon besar itu.
“Enak
nih makan es krim di sini.” kata Nezi.
Sambil
memakan es tiba-tiba suasana berubah menjadi tegang.
“Kok
merinding gini ya.” ucap Dinar.
“Ah
kamu itu penakut.” ejek Alan.
“Tapi
iya juga merinding nih.” balas Nezi.
Tiba-tiba
suara seram terdengar.
“Suara
apa itu.” kata Dinar.
“Ah
paling Cuma perasaanmu saja.” kata Alan
Suara
seram itu terdengar kembali.
“Eh
iya ada suara-suara aneh!” seru Alan.
“Jangan-jangan
ada hahantuuu...” teriak Dinar.
Mereka
langsung berlari meninggalkan pohon besar itu.
“Hey
tunggu aku!” seru Nezi ketakutan.
“Gampang
banget nakutin mereka hahaha...” Hendri tertawa terbahak.
Ternyata
ada Hendri di balik pohon besar itu. Dia memang anaknya jail.
Hari
telah gelap merekapun kembali ke penginapan. Alan tertidur lelap. Sesampainya
di penginapan Alan masih tertidur. Lalu Alan ditinggal sendirian di bus.
“De
bangun de.” kata supir bus membangunkan Alan.
“Oh
ya pak dah sampai?” tanya Alan lesu.
“Iya
ini sudah dari tadi.” jawab supir bus.
Alan
lalu keluar dari bus dan menuju ke penginapan. Alan sempat salah ruang
penginapan. Gara-gara ngantuk.
“Gimana
nih Alan belum balik juag?” tanya Nezi khawatir.
“Iya
nih kalo kekunci di dalem bus gimana?” balas Dinar.
Tiba-tiba
terdengar suara orang berlari.
“Alan
kemana saja kamu?” tanya Nezi.
Ternyata
yang berlari adalah Alan.
“Kalian
ninggalin aku di bus sendirian untung aja supir busnya mbangunin aku, mana aku
salah masuk ruang penginapan lagi kalian si pake ninggalin.” jawab Alan sedikit
marah.
“Iya
maaf abis kamu tidurnya nyenyak banget si.” Nezi dan Dinar meminta maaf kepada
Alan.
“Mereka
bertiga lalu tertidur lelap karena seharian jalan-jalan.
Pagi datang, semua anak
masih tertidur kecuali Dinar yang sedang beres-beres karena sebentar lagi
mereka akan meninggalkan penginapan.
“Hey
bangun-bangun udah pagi ini.” teriak
Dinar.
“Hoam..
masih ngantuk tau.” ucap Nezi lesu.
“Ayo
hey bangun.” kata Nezi kepada Alan lemas.
“Ayo
semuanya bangun, bangun.” teriak Dinar
lagi kepada teman-teman yang lain.
Semuanya
suda bangun. Segera membereskan barangnya masing-masing dan bersiap-siap karen
sebentar lagi meninggalkan penginapan.
Bus
mulai melaju perlahan meninggalkan penginapan dan menuju ke Bandung. Perjalanan
yang cukup panjang dilalui. Nezi dan teman-temannya bermain kartu untuk
menghilnagkan rasa jenuh.
“Ayo
cepet di bagu kartunya.” kata Alan tak sabar.
“Iya
bentar dikocok dulu.” jawab Nezi.
“Nih
kartunya aku bagi, kita main minuman saja.” kata Nezi semangat.
“Dibagi
lima-lima saja.” kata Dinar.
“Hey
aku ikutan ya!” seru Bani.
“Aku
juga.” kata Rami dan Husna
Bani,
Rami dan Husana adalahh teman satu kamar di penginapan dengan Nezi.
“Asik
rame nih.” ucap Alan.
“Oke
kita main.”
“Hati”
kata Nezi.
“Waduh aku ga ada
lagi.” kata Dinar.
“Ayo
silakan ambil kartu yang banyak.” ejek Alan.
Sepanjang
perjalanan mereka asik bermain. Hingga tak terasa ternyata sudah sampai di
Bandung.
“Udah
sampai di Bandung nih.” kata Dinar.
“Wah
iya, tujuan pertama kemana si?” tanya Nezi.
“Ke
Museum Geologi.” jawab Dinar.
“Museum
Geologi apasi?” tanya Nezi.
“Museum
Geologi itu Museum yang memajang banyak peninggalan-peninggalan purba bangsa
Indonesia. Ada kerangka Dinosaurus batu susah ditemui, banyak lah pokoknya.”
jawab Alan.
“Oo...”
balas Nezi.
“Emang
kamu belum pernah kesana?” tanya Alan.
“Belum.”
jawab Nezi.
Bus
mulai memasuki arel Museum Geologi. Terlihat cukup ramai suasana di sana. Ada
anak kecil hingga orang dewasa bahkan sudah tua yang berkunjung ke Museum Geologi.
Bangunan
dari Museum geologi besar dan masih kuno dengan 2 lantai. Di dalamnya banyak
terdapat artefak-artefak.
“Oo..
ini seperti ini Museum Geologi.” kata Nezi.
“Ramai
ya” ucap Alan.
“Sekarang
kan sedang liburan sekolah panteslah ramai begini.” jawab Dinar.
Mereka
bertiga lalu masuk ke dalam.
“Waw!
Kerangka dinosaurusnya besar banget.” kata Nezi kagum.
“Iya,
disini juga ada banyak artefak.” ucap
Alan.
“Masih
ada yang lain.” ucap Alan.
“Apa
apa?” tanya Nezi penasaran.
“Ayo
kita kesana.” suruh Alan.
“Waw!
Ada banyak batu-batuan aneh.” seru Nezi.
Mereka
berjalan sambil mengamati batu-batu itu.
“Hey
lihat kesini.” ucap Dinar.
“Ada
apa?” tanya Nezi.
“Sini
ya!” suruh Dinar.
“Ini ada barang yang
ditemukan setelah Gunung Merapi meletus.” kata Dinar.
“Wah
iya ini barangnya sampai begini gara-gara terkena lahar pasti panas banget ya.”
balas Nezi.
“Pastinya iyalah!” seru
Dinar.
“Ada
yang baw kamera?” tanya Niza.
“Ini
aku bawa.” balas Alan
“Ayo
kita foto-foto disini.” kata Nezi.
Saat
mereka bertiga asik berfoto-foto, tiba-tiba ada panggilan.
“Kepada
seluruh siswa SMP Negeri 1 Purbalingga segera menuju ke dalam bus masing-masing
karena perjalanan akan segera dilanjutkan.”
“Wah
ayo cepat kita ke bus, udah mau berangkat.” kata Dinar.
“Iya
ayo cepat.” balas Nezi.
“Waduh
rame banget ini susah keluarnya.” ucap Alan.
Mereka
berusaha menyelina di tengah-tengha keramain. Akhirnya mereka berhasil keluar
juga dengan badan yang berkeringat. Cukup lama mereka berusaha untuk keluar.
“Lama
banget kalian.” kata Pak Marzuki.
“Iya
maaf pak, ramai banget di dalam jadi susah untuk keluar.” jawab Nezi.
“Yasuda
cepat masuk, ini ada makanan.” kata Pak Marzuki.
Mereka
langsung segera duduk dan memakan dengan lahap makanan yang di berikan Pak
Marzuki.
Bus melanjutkan perjalanan menuju ke Trans
Studio Bandung. Perjalanan yang tidak begitu lama sikitar 1 jam. Trans Studio
Bandung adalah tempat berbagai wahana permainan indoor. Trans Studio Bandung terletak dikawasan Hotel Ibis.
Bangunannya besar dan megah, dengan areal parkir yang sangat luas. Saat masuk
kedalam tidak boleh membawa makanan ataupun minuman da juga tas yang berukuran
besar.
“Maaf
de tasnya di titipkan di sana dulu.” kata salah satu petugas.
“Oh
ya mba.” jawab Nezi.
Nezi
lalu menitipkan tasnya di penitipan barang.
“Ayo
kita coba main itu.” Nezi menunjuk ke wahana Dunia Lain.
“Ayo.”
jawab Alan dan Dinar serempak.
“Antrinya lama banget.”
ucap Dinar.
“Sabarlah
nanti juga giliran kita.” jawab Nezi.
Mereka
menunggu lama dan akhirnya giliran mereka.
“Serem
nih suasananya.” kata Danar.
“Ayo kita naik.” kata Nezi semangat.
Kereta mulai
jalan perlahan melewati lorong-lorong yang gelap. Tiba-tiba ad hantu yang
muncul dari tembok.
“Waa... ” teriak Dinar
ketakutan.
“Iiii...
seram.” kata Nezi.
“Ini masih awal.” kata
Alan.
Lalu
kereta masuk ke ruangan mirip penjara bawah tanah dan tiba-tiba ada monster
muncul dari balik jeruji besi dengan suara menyeramkan.
“Waa...” mereka bertiga
berteriak.
Kereta
memasuki ruangan mirip kamar mayat. Ada banyak sekali mayat yang teridur. Tiba-tiba ada satu
mayat terbangun dan melirik ke arah mereka.
“Waa...”
mereka berteriak dengan sedikit tersentak.
“Udahlah
udah.” Dinar ketakutan.
Sekarang
mereka berada di kuburan. Tiba-tiba ada yang mecolek mereka dari belakang
mereka melihat ke belakang dan ternyata ada kuntilanak.
“Waaa...
waaa... waa...” mereka bertiga menjerit ketakutan dan menutupi kepala mereka
dengan bajunya masing-masing.
Yang
terakhir adalah tempat kecelakaan mobil ambulan. Tiba tiba ada mayat yang
terjatuh dari dalam mobil dan ada sorotan cahaya terang yang membuat mereka
terkujut.
Akhirnya
selesai juga petualangan mereka di wahana Dunia Lain yang membuat mereka
ketakutan setengah mati.
“Huuh,
serem banget ya tadi.” kata Nezi geemtaran.
“Iya
ngga lagi-lagi deh aku.” jawab Dinar.
“Dasar
penakut.” ejek Alan.
Mereka
lalu pergi mencari wahana lain. Dan menemukan wahana asik lagi. Tetapi Dinar
tidak mau ikut naik.
“Ayo
kita main yang itu!” seru Nezi
“Ah
ga ah gamau, nanti kita di naikin sampai atas trus di jatuhin gitu-gitu terus
ga mau ah.” jawab Dinar takut.
“Cemen
kamu.”balas Alan.
“Aku
tunggu disini saja.” kata Dinar.
“Yasudah
ayo kita kesana Lan.” kata Nezi.
“Oke.”
jawab Alan semangat.
Nezi
dan Alan lalu menaiki wahana itu. Awalnya Nezi dan Alan semangat sekali tetapi
lama kelamaan mereka menjadi takut juga.
“Waa...
lama-lama nakutin nih.” kata Nezi.
“Iya
deg-degan juga.” jawab Alan.
Permainan
akhirnya selesai. Mereka turun dari wahana itu dengan wajah yang pucat dan
jalannya sempoyongan.
“Kenapa
kalian?” tanya Dinar.
“Ini
gara-gara wahana itu.” jawab Nezi.
“Hhaha
kasian.” Dinar tertawa.
“Ayo
mending kita cari wahana yang asik lagi.” Ajak Dinar.
Mereka
lalu berjalan mencari wahana yang lain lagi. Saat sedang asik berjalan Dinar
melihat motornya Lorenzo. Dinar itu sanagt menyukai Lorenzo. Lorenzo adalah
pembalam MotoGP dunia dari Spanyol.
“Hey
itu lihat ada motornya Lorenzo!” seru Dinar.
“Wah
iya.” balas Nezi.
“Ayo
coba kita lihat kesana.” kata Dinar.
Nezi,
Alan dan Dinar lalu mendekati motor itu.
“Wah
keren ya.” kata Dinar kagum.
“Cobalah
aku naikin.” Dinar menyuntuh motor itu.
“Jangan
Din!” larang Alan dan Nezi.
Dinar
menghiraukan perkataan, dian akhirnya menaiki motor itu. Ada petugas yang
melihat Dinar lalu mendekati Dinar kelihatanya akan marah.
“Hey
kamu jangan dinaiki itu!” teriak seorang petugas.
“Oh
ya maaf pak.” jawab Dinar.
“Kamu
ngapain naik-naik motor itu?” bentak petugasnya.
“Maaf
pa saya itu suka banget sama Lorenzo jadi saya naikin motornya Lorenzo itu.”
jawab Dinar kecewa.
“Lain
kali jangan ulangi perbuatan itu lagi ya. Itu kan sudah ada tandanya dilarang
menyentuh apalagi menaiki apa kamu tidak lihat!” kata petugas sambil menunjuk
ke tanda larangan.
“Iya
pa maaf saya salah.” jawab Dinar menyesal.
“Yaudah
sana.” kata petugas kesal.
“Terimakasih
pa” kata Dinar, Alan dan Nezi.
“Kamu si dibilangin
jangan-jangan malah ngeyel.” kata Nezi.
“Iyalah
maaf-maaf.” balas Dinar
Mereka bertiga lalu
meninggalkan motor itu. Dinar sangat menyesali perbuatannya itu. Dia tidak akan
mengulanginya kembali.
“Mendingan kita cari
minum haus nih muter-muter dari tadi.” kata Alan.
“Iyanih
bener haus banget.” balas Nezi.
Mereka
lalu menuju ke sebuah restoran dan minum bersama-sama.
Waktu
di Trans Studio Bandung sudah usai bus sudah menunggu di depan pintu keluar.
Mereka akhirnya meninggalkan Trans Studio Bandung dengan diguyur hujan yang
lebat. Perjalanan mereka dilanjutkan ke Cibaduyut, yaitu tempat penjualan
barang-barang khas Bandung.
Sesampainya
di Cibaduyut hujan masih mengguyur. Jalanan becek sehingga susah untuk mencar
barang-barang. Nezi, Alan dan Dinar mencoba menembus derasnya hujan.
“Hujan
nih gimana?” keluh Nezi.
“Iya
nih jadi sulit nyari barang lagi.” balas Alan.
“Udahlah
ayo kita kembali aja ke bus.” kata Dinar.
“Iya
ayo kita balik aja ke bus, lagian udah dapet barang-barang juga.” balas Nezi.
Akhirnya
mereka memutuskan untuk kembali ke bus karena hujan yang bertambah lebat.
Tak
lama kemudian bus melanjutkan perjalanan pulang kembali ke Purbalingga. Sebelum
sampai mereka mampir dulu di pusat oleh-oleh Jawa Barat. Ada banyak jajanan
yang tersedia disana seperti : peyem, dodol garut, selai pisang, dan masih
banyak lagi.
“Kamu
mau beli apa?” tanya Nezi kepada Alan dan Dinar.
“Aku
mau beli peyem ajalah.” jawab Alan.
“Aku
dodol sama peyem.” jawab Dinar.
“Kamu
mau beli apa Nez?” tanya Alan.
“Bingung
nih” Nezi memilih-milih.
“Yasudahlah
beli dodol sama selai pisang aja.” jawab Nezi.
Mereka
lalu kembali ke bus.
Bus
mulai berjalan melanjutkan perjalanan panjang meninggalkan semua kenangan,
melintas jalan yang berliku-liku. Di tengah gelapnya malam Nezi, Alan dan Dinar
tertidur pulas di bangku belakang. Wajah mereka begitu senang dengan senyum di
bibir.
-selesai-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar